Jumat, 23 Oktober 2009

Hujan Yang Sebenar-benarnya Hujan

Sekira jam delapan malam ini, air serasa diguyurkan dari langit. Gemuruh. Deras nian. Menyenangkan sekali menemui peristiwa yang sudah lama dinanti-nanti. Basah pepohonan, rerumputan, gedung, tanah dan segenap yang ada di bumi Cepu ini. Tak terkecuali orang-orang yang berlalu lalang di jalanan. Bergegas mereka, berkehendak agar segera tiba di tempat tujuan. Nampaklah yang tak berkendara roda empat, bayah kuyup tubuhnya. Sebagian mencari sekedar perlindungan dari derai air hujan. Rupanya pesan sedia payung sebelum hujan tak mereka hiraukan, padahal siang selepas sholat Jum'at tadi guntur di langit telah menggelegar. Awan di bagian barat telah menampakkan hitamnya. Dalam kegegasan berkendara, mengintai bahaya bagi pengendara dan pengguna jalan lainnya. Laju kendaraan yang ditingkatkan, ditambah kondisi jalan yang rusak di beberapa tempat, sebagai misal depan SMAN 1 Cepu ke selatan hingga pertigaan jeplakan sepur dipenuhi lubang di kanan kiri badan jalan tersebut. Memang tak seberapa dalam, namun memaksa untuk melakukan manuver zig-zag. Pecahlah konsentrasi berkendarannya. Bahaya bagi dirinya, bahaya pula bagi yang lainnya. Suatu ironi yang nyata ada di kota yang dikenal minyaknya. Semoga segera ditanganiya kekurangan yang ada.

Esok hari, atap yang bocor, selokan yang mampet karena sampah mendesak untuk ditangani. Bongkar gudang, ambil mantel dan payung, itu sudah pasti. Siapa yang sudi berbasah-basah di luaran lagi. Masuk angin nanti. Waspada lagi terhadap bencana alam dan penyakit yang akan terjadi. Bencana banjir Bengawan Solo nampaknya telah menjadi langganan kini. Semoga penanggulan daerah aliran sungai segera terwujud, agar tenteram hati warga ini. Mencret dan demam berdarah, dua dari sekian banyak penyakit yang kemungkinan terjadi. Padahal mudah sekali pencegahannya. Siapa lagi kalau bukan oleh kita sendiri. Cukup cuci tangan dengan sabun serta kebersihan diri dan lingkungan yang yang harus dijalani. Namun siapa yang peduli?

Kamis, 22 Oktober 2009

Hujan Rintik-Rintik di Cepu

       Hujan yang sudah lama ditunggu-tunggu muncul juga akhirnya. Walaupun hanya rintik-rintik saja pada sore ini. Gak deras, anginnya saja yang kencang. Mobat-mabit atap seng yang pakunya sudah kendor. Sempat khawatir kalau sengnya terbang. Sekira setengah jam hujan berlangsung.Lumayanlah buat menghapus debu. Ampo, bau tanah terkena hujan terasa benar di hidung. Cukup menyegarkan. Yang gak enak, kelembaban tinggi kombinasi suhu udara yang masih terasa panas setelah hujan, membuat keringat yang keluar terasa lengket di badan.Terpaksa mandi lagi malam ini, biar segar. Untung saja sumur masih keluar air. Sumur tetangga banyak yang sudah macet atau debitnya mengecil. Padahal letaknya di pinggiran Bengawan Solo. Beberapa tetangga minta dialiri air. Kemarin-kemarin, sudah banyak sumur yang didalamkan. Hasilnya malah macet. Air ledeng masih mengalir, walaupun hanya jam-jam tertentu saja. Biasanya jam sepuluh malam atau jam delapan pagi dengan waktu yang tidak begitu lama. Sekedar mandi cuci keluarga kecil. Untuk minum tidak menggunakan kedua macam air tadi. Takut kencing batu, soalnya kadar kapurnya tinggi. Rata-rata menggunakan air mineral, baik isi ulang mapun galonan. Memang praktis dan sehat, konsekwensinya anggaran belanja tambah. Sebenarnya kedua macam air tadi bisa digunakan untuk minum, tapi menggodoknya harus cukup . Setelah mendidih, masih diteruskan sekira setengah jam.Tidak langsung diminum, harus disaring dulu. Tambah waktu, tenaga dan ongkos bahan bakar jadinya.