Sekira jam delapan malam ini, air serasa diguyurkan dari langit. Gemuruh. Deras nian. Menyenangkan sekali menemui peristiwa yang sudah lama dinanti-nanti. Basah pepohonan, rerumputan, gedung, tanah dan segenap yang ada di bumi Cepu ini. Tak terkecuali orang-orang yang berlalu lalang di jalanan. Bergegas mereka, berkehendak agar segera tiba di tempat tujuan. Nampaklah yang tak berkendara roda empat, bayah kuyup tubuhnya. Sebagian mencari sekedar perlindungan dari derai air hujan. Rupanya pesan
sedia payung sebelum hujan tak mereka hiraukan, padahal siang selepas sholat Jum'at tadi guntur di langit telah menggelegar. Awan di bagian barat telah menampakkan hitamnya. Dalam kegegasan berkendara, mengintai bahaya bagi pengendara dan pengguna jalan lainnya. Laju kendaraan yang ditingkatkan, ditambah kondisi jalan yang rusak di beberapa tempat, sebagai misal depan SMAN 1 Cepu ke selatan hingga pertigaan jeplakan sepur dipenuhi lubang di kanan kiri badan jalan tersebut. Memang tak seberapa dalam, namun memaksa untuk melakukan manuver zig-zag. Pecahlah konsentrasi berkendarannya. Bahaya bagi dirinya, bahaya pula bagi yang lainnya. Suatu ironi yang nyata ada di kota yang dikenal minyaknya. Semoga segera ditanganiya kekurangan yang ada.
Esok hari, atap yang bocor, selokan yang mampet karena sampah mendesak untuk ditangani. Bongkar gudang, ambil mantel dan payung, itu sudah pasti. Siapa yang sudi berbasah-basah di luaran lagi. Masuk angin nanti. Waspada lagi terhadap bencana alam dan penyakit yang akan terjadi. Bencana banjir Bengawan Solo nampaknya telah menjadi langganan kini. Semoga penanggulan daerah aliran sungai segera terwujud, agar tenteram hati warga ini. Mencret dan demam berdarah, dua dari sekian banyak penyakit yang kemungkinan terjadi. Padahal mudah sekali pencegahannya. Siapa lagi kalau bukan oleh kita sendiri. Cukup cuci tangan dengan sabun serta kebersihan diri dan lingkungan yang yang harus dijalani. Namun siapa yang peduli?